mewadahi yang tak terwadahi
mengungkap yang belum terungkap
menyusuri lorong-lorong yang jarang dilewati

Thursday, January 06, 2011

kamu lucu






kamu lucu
dengan gagang kacamatamu yang besar
hitam klasik
mengingatkanku pada sinetron tempo dulu
Cibereum
sosok guru dengan sepeda onthel tua dan tas kulit bututnya
mengelilingi jalan desa menuju sekolahnya

kamu bukan bapak guru itu
tapi wajah klasikmu ingatkanku
membuatku sering senyum-senyum lucu
apalagi dengan tingkahmu yang kadang wagu

ah kamu memang lucu

kumenantimu


kumenantimu
entah sampai kapan
namamu terbersit begitu saja
sekerjap saat aku bergegas menuju kotaku

namamu hadir
menyeruak di sekelebatan waktu
tanpa rencana

bunda tiba-tiba saja mengucapmu dari bibirnya
dan kisah sederhana tentangmu pun mengalir
lewat bola-bola mata dan senyum cerahnya
mendadak ia sumringah

mmm
namamu terbersit begitu saja
sekerjap tanpa rencana

namun
akankah namamu jadi realita keseharianku..
bukan sekedar sebuah nama yang terserak saat awal tahun..
entah...
kamu harus membuktikannya...

akankah kumenantimu?
menanti sesosok nama yang kan bawakanku coklat di tangan
pesananku

gambar diunggah dari: http://www.howarddavidjohnson.com/beautiful-women.htm

Sunday, December 12, 2010

refleksi


Semuanya berubah cepat. Waktu seakan berlari sprint, dan jika kita tak ikut berlari kita akan tertinggal oleh sang waktu dan hanya tergugu dan membisu...kenapa semuanya seolah pergi meninggalkan kita...

mm terkadang sepi menghampiri, kala kesibukan mulai mereda..
terkadang sebuah tamparan hebat mengena di pipi ketika ternyata orang-orang di sekelilingku pun telah memilih jalan hidupnya dan mencecap buah-buah manisnya..

bersyukur bahwa apa yang dulu kutanyakan dan membuatku tergugu " Apakah yang akan kamu ubah jika andai bisa memutar waktu?" Jawab kekasihku waktu itu," Tidak, aku tak pernah menyesal, Point of no return." waktu itu aku hanya terbengong.. sungguh sebuah pernyataan kepenuhan...
Dan aku bersyukur, di titik ini aku bisa mengatakan hal yang sama. Frank Sinatra berlagu I did it my way.. so begitulah kira-kira perjalananku...

Di setiap penghujung tahun, dengan sadar kutengok ke belakang untuk kembali memaknai setahun peziarahan hidup, sekaligus memunguti impian-impian yang sempat terserak di sepanjang perjalanan itu.. Dan mengaso sejenak, melepas dahaga, menatap cakrawala... melihat mentari yang mulai terbenam saat senja... dan menanti fajar yang akan menggeliat esok pagi...

Selamat berefleksi dear....
Take a good care ...cayo...

Wednesday, December 08, 2010

Sisi Gelap dan Sisi Terang

Sebuah buku dengan cover yang biasa, layaknya buku rohani lainnya. Tampak tidak menarik. Sebuah tulisan Sisi Gelap Terang di tengah, dan sebuah ilustrasi bayangan seorang lelaki, dan sepasang sepatu hitam pantofel menghiasi cover buku ini. Awalnya seorang kawan memromosikan, "Ini buku bagus, kalo aku dah selesai, kamu boleh pinjam,"kata D suatu siang. Mmmhh ia mengatakannya seolah mengandaikan bahwa aku tertarik ingin membaca buku yang baru saja ia beli itu. Sebuah buku yang diterbitkan OBOR berwarna dominan hitam, abu-abu, putih dan hijau lumut.

Yah..demi sebuah relasi, dengan enggan kupinjam buku berjumlah 196 halaman itu. Mmh... sehalaman demi sehalaman aku buka dan resapi buku karya seorang rohaniwan Wolfgang Bock, SJ itu... semakin lama aku makin terhanyut ke dalamnya. Pater Wolfgang membagi buah pikirannya menjadi tujuh bab; Mengenal Sisi Gelap, Memproyeksikan Sisi Gelap, Menarik Kembali Proyeksi Sisi Gelap, Yesus dan Sisi Gelap, Bersahabat dengan Sisi Gelap, Butir Emas Dalam Sisi Gelap, Sisi Gelap dan Spiritualitas.

Tulisan Pater Wolfgang begitu enak dibaca, walaupun materi yang beliau angkat begitu fundamental... Kita pasti punya bayangan, sungguh seorang manusia yang aneh jika tidak punya bayangan... Bila ada bayangan, pasti juga ada sumber cahaya. Terang dan gelap saling mengait, benar-benar berpasangan. (hal.3) Ilustrasi tersebut tepat sekali menggambarkan betapa sungguh alami bahwa kita punya sisi gelap dan terang. Sisi gelap dan terang ini bagaikan dua sisi dalam sekeping uang logam. Kita tak bisa memilih satu di antaranya.

Sisi gelap itu terkait dengan salah satu sifat atau tabiat yang bertalian dengan tingkah laku yang sulit diterima, misalnya rasa iri, kikir dan tingkah laku kasar. Istilah sisi gelap ini menunjuk pada semua sifat dan tingkah laku yang dengan sadar tidak kita terima dan oleh karena itu kita menggeser dan menekannya. Selain itu, ada juga unsur-unsur sisi gelap yang tidak kita sadari dan yang tetap tinggal tersembunyi bagi kita sendiri. (hal. 3) Jika sisi gelap ini tidak kita olah, maka suatu saat jika ia muncul ke permukaan, maka kita akan terkejut bahkan mungkin dapat dikuasainya. Bukan hanya kita yang terkejut, terlebih orang-orang terdekat di sekitar kita. Sebaliknya, jika sisi gelap itu kita sadari dan olah maka hal itu akan menjadi energi yang luar biasa. Membuat diri kita utuh. Menjadi pribadi yang dewasa.

Buku ini mengajak pembaca mengembara ke area yang mungkin asing bagi sebagian dari kita, menakutkan... Karena itulah, penulis membuat langkah-langkah yang sistematis, runtut dan tidak terlalu radikal. Perlahan namun pasti, ia menuntun kita untuk berani menuruni tangga ke bawah tanah untuk menemui sisi gelap kita dan merangkulnya, menerimanya.

Selapis demi selapis kita diajak masuk ke ruang terdalam diri kita. Sebuah pengembaraan yang mendebarkan namun berarti... Buku ini layak dibaca bagi kawan-kawan yang mau membuat hidupnya bermakna. Karena hidup yang tidak bermakna adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Buku ini sarat contoh, dan penulis pun tak enggan untuk mensharingkan pengalamannya. Ia tak berjarak dengan pembacanya. Ia berproses bersama. Seolah kita sedang beranjangsana, bertatap muka dengan pembimbing rohani kita.

Saya sendiri belum selesai "bertatap muka" dengan Pater Wolfgang. Jika sudah, saya akan membagi pengalaman saya dengan teman-teman...

Jika teman-teman sudah membacanya, mari kita sharing bersama....:)

Monday, October 18, 2010

Cerita

Tentu ada penyebabnya
Tentu ada karena bermakna
Terjadi dari jalinan peristiwa
Dimulai dari sebuah kerinduan
Untuk memulai sebuah cerita

Sunday, October 17, 2010

Mengapa

Aku tidak tahu ini sebuah kepengecutan atau bukan....
tapi mengapa aku tidak melangkah maju...
kenapa berhenti di titik ini,
padahal kutahu bahwa pikiranku tak mengizinkannya...
hatiku pun tidak...
lalu apa yang membuat kakiku berhenti melangkah?
Apa yang kucari?
Sebuah bayangan maya?
Semu?
Tak bermakna?
Mengapa harus berlari tak tentu arah tujuan?
Mengapa harus takut untuk bergerak menuju titik terang itu?
Mengapa ragu dan takut?
Mengapa tak berani percaya
bahwa aku tak sendiri?
bahwa Ia ada....

(gambar diambil dari Adex Inu.blogspot.com)

Monday, October 11, 2010

Hari ini

Kuterbangun...

Saat darasan Malaikat Tuhan dari radio berkumandang...

Ah sudah pagi rupanya

Saatnya untuk bergegas

Mm... kulangsung meluncur ke dapur

Berjibaku dengan bayam, wortel dan bumbu dapur

Hari ini ku ditemani buah dan sayur

Syukur...

Ternyata memasak bagus juga

Sebagai aktivitas yang menjaga

kreativitas jiwa

dan menyehatkan raga

hahaahah

Thursday, September 30, 2010

Melambat

Ketika mengalami ketergesaan, harus berlari mengikuti arus yang cepat, berderap dalam ritme yang melesat... sering kita terhanyut dalam kecepatan itu... dan tersesat....
Ya, dalih bersegera ke tujuan terkadang membuat kita hilang arah tujuan itu sendiri...
sebuah paradoks...
Dan, paradoks perlu dihadapi dengan paradoks juga. Teringat akan ide dari Kompas bahwa ketika terhanyut dalam arus yang cepat, baiklah melakukan perlambatan...itulah yang ingin kumulai...

Ingin kupunguti satu demi satu makna yang terserak terlepas dari genggaman..akibat ketergesaan

Merenungi, meresapi dan diam tenang dalam kekinian.... saat ini....

Monday, January 04, 2010

Sebel

Sebel ih sebel
Kenapa sebel?
Sebel ih sebel
Karena ternyata aku masih sebel
Mmmmm
So, sumbernya apa tho?
Mmmmm
Mungkin bukan apa
Tapi siapa
Lho?
Iya
Mungkin mulai sekarang harus berani
Menukik kepada penyebabnya
Dan itu bukan apa
Tapi siapa
Lalu siapa??

Sedih




Aku sedih..
Duduk sendiri..
Menatap huruf satu-satu yang bermunculan di depanku
Kutekan tuts satu-satu
Seiring gundah gulana yang menyelinap perlahan
Saat kuyakin bahwa aku sudah melepaskan
Tetapi ternyata sedih itu datang lagi
Sepi itu tak mau pergi
Walau telah kuusir saat liburan lalu
Walau telah kucoba usir pergi saat tertawa bersama mereka
Saat kucoba menghalau ketika aku gembira
Namun...
Sepi itu datang lagi
Sedih itu kembali
Tak mau pergi....

Sunday, January 18, 2009

Lentera Jiwa by Nugie Nugraha


Lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
s’gala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang s’lalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

foto diambil dari fotografer.net berjudul Touch the Sky karya Harimanto



Wednesday, December 03, 2008

Mempertimbangkan

Tadi pagi aku bercakap-cakap dengan seseorang. Dengan nada tenang dan bahasa yang tertata (tanda ia sedang serius) ia mengingatkan aku untuk berhati-hati. Caranya mengingatkanku begitu runut dan runtut. Ini membuatku ingin membaginya dengan kawan-kawan...

Begini katanya. Ada tiga hal penting untuk dipertimbangkan saat kita mengambil keputusan. Apalagi saat kita sedang dilanda emosi tapi juga ingin tetap mau berpikir jernih.
Pertama, tentang kerja otak secara biologis. Otak kita terdiri dari pusat berpikir dan pusat emosi. Pusat emosi yang disebut amigdala itu tumbuh dan berkembang lebih dulu dan lebih cepat daripada pusat berpikir. Bahkan, sejak dalam kandungan pusat emosi ini sudah tumbuh. Jadi saat emosi kita sedang berperan kuat dan kita mau menyeimbangkan dengan daya nalar kita maka kita perlu kerja ekstra keras untuk menyeimbangkan. Ingat, itu baru seimbang, setara, alias seri lho. Analoginya kalau kita berpikir dua kali maka itu baru seimbang dengan emosi kita. Jadi kalau mau melampaui emosi, maka daya pikir kita harus tiga kali kerja.

Kedua, NLP. Saat kita berada dalam peak-peak experience kita seperti saat kita sedang takut, kehilangan, hampa, cemas, sedih, atau malah bahagia dan saat-saat penting itu kita ada bersama orang terdekat maka orang itu memberi kesan yang mendalam. Kehadiran orang yang lain dalam peristiwa keseharian rutin tentu akan sulit "dibandingkan" atau "disejajarkan" dengan orang itu.

Ketiga, sejarah. Bagaimana sejarah kita dengan orang tersebut? Apakah ada titik-titik yang semakin baik atau ada hal-hal yang membuat kecewa?Jika jawabnya kecewa, maka kita perlu berpikir ulang....

Dari ketiga hal tersebut, maka kita dapat berpikir kembali. Menghitung kembali. Dan menentukan keputusan apakah mau tetap berlaga di medan itu, atau memilih medan pertempuran yang lain???

Sunday, October 12, 2008

Pusing

puseeng dech dua hari ini...
perut mules muter-muter
kepala nyut-nyut
ehm...

tanda2 low bat

recharge yuks

Sunday, September 21, 2008

Who are you?

Masalah..
Ada yang timbul dari luar, tapi ada juga yang penyebabnya tuh dari dalam.
Contohnya yaitu kebiasaan untuk meraba-raba apa sih pikiran orang tentang kita...
Mereka - reka and berusaha untuk mengubah cara pandang mereka tentang kita. Entah agar dipandang sebagai orang yang cool, keren, asyik, smart, baik, dll. Mencoba untuk memuaskan mereka. Tuntutan mereka. Harapan mereka.

Untuk tahu pandangan orang tentang kita aja dah jelas susah banget dapat jawabannya n kalopun dapet, follow up nya malah bikin tambah repot. Repotnya kalo konsepnya adalah mau mengubah hal-hal dalam diri untuk ngikutin apa yang dituntut orang. Bisa ngebayangin gak kalo orangnya ada 10 aja maka ada 10 tuntutan kan? Kalo gitu hidup jadi gak jelas. Jadi muter-muter. Karena cuma ikut yang ini dan yang itu.

Kita gak bisa jadi 100 % (kaya iklan aja..) karena image yang kita bangun tentang diri kita hanyalah potongan-potongan semata yang gak bikin gambar utuh.. Sekeping puzzle kepala macan, sekeping lagi bulu kelinci, sepotong mata burung hantu, sepotong lainnya sayang burung.. nah lho gambar puzzle apaan tuh.. Kita gak jelas mo jadi apa apakah seekor macan yang garang, kelinci lucu, burung hantu pintar, atau burung yang terbang bebas...atau yang lebih ironis lagi adalah... kita gak pernah jadi apapun, siapapun .. karena gak berani jadi diri sendiri. gak berani nentuin sikap. Gak berani memperjuangkan diri sendiri. Gak berani nanggung resiko. Cuma berani jadi follower dari semua tuan yang ada di sekitar kita. Gak berani bikin trend sendiri. ..

Nah lho kalo dah gitu hidup kita masih memuaskan gak sih? Membahagiakan? Atau makin bikin kita merasa tersesat.. saat kita dihadapkan sebuah pertanyaan: Siapakah kamu?

In your opinion, Who are you?
Where are you going to?

Tuesday, August 19, 2008

Puncak

Puncak itu titik tertinggi.
Lembah itu titik terendah.

So, kalau sedang merasakan puncak kebahagiaan, mestinya sedang merasa bahagia luar biasa.
Merasa dunia di genggaman tangan.
Sebaliknya, kalau sedang merasa sedih, dunia terasa kiamat..

Tapi.. kenapa ya setiap aku merasa puncak bahagia, itu tak bertahan lama..
akan mudah berganti menjadi lembah.. sebuah mood swing..
Rasa yang bergejolak.. seperti naik halilintar di Dufan yang menuju putaran dan dengan cepat menuju ke tempat rendah..

....

Emm. semoga aku tetap tenang dalam mood swing kali ini...

Proses


Bersyukur atas segala proses yang kujalani hingga titik ini. Proses jatuh bangun baik yang kupilih sendiri ataupun yang memang mau tak mau perlu kujalani. Proses yang membuatku makin dewasa, makin berani, makin nothing to lose, makin kuat. Ah.. rasanya klimaks. Dan pada titik puncak ini aku, seperti sebelum-sebelumnya, merasa hening.. Hening.. hening..

Thanks God for this process..
Gambar diambil dari www.fotografer.net karya Fitra Pranadjaya

Thursday, August 14, 2008

Finish

Finish....
Mudah untuk diucapkan
Diniatkan
Tapi kenapa mau start lagi
Berproses lagi
Jatuh lagi
Bangun lagi
Ehm..
Finish..
It's over!!!

Thursday, July 10, 2008

Permainan

Bermain. Siapa yang nolak sih? Bukankah kita adalah homo ludens? Juga saat usia kita sudah beranjak dewasa dan makin serius alias tua, hehehe. Bermain itu mengaktifkan beberapa hal dalam hidup kita. Membuat fresh sehingga kita bisa kembali fokus dalam pekerjaan dan keseharian. Jadi, selain asik untuk dilakukan, efeknya juga bagus.
Tetapi mengapa banyak orang dewasa sudah jarang bermain? Sehingga hidup jadi terlalu serius dan tidak menarik?
Akhirnya karena hasrat bermain perlu disalurkan, maka orang dewasa punya wahana permainan sendiri.

Tuesday, July 01, 2008

Hari ini indah


Hari ini indah. Ya. Aku merasakan hari yang menggairahkan, penuh semangat, penuh ide. Awalnya hanya dari kebosanan dengan hari-hari kemarin yang bikin ngantuk, garing dan flat. Hari-hari yang isinya kekecewaan atas harapan-harapan yang telah ditanam. Hari-hari yang bikin nglokro.


Dan, pagi tadi aku bangun dengan tekad baru. Hari ini gak boleh sama seperti hari kemarin! Harus itu! Kusiapkan kemeja warna oranyeku. Kemeja lengan panjang bergaris putih oranye favoritku kalau mood lagi gloomy. Dian Sastro pernah bilang bahwa dia menganut psikologi warna. Nah, menurut majalah lifestyle yang biasa membahas hal-hal kaya gini, warna oranye itu artinya energi. Jadi, harapannya, kalo pake baju warna oranye kita bakal jadi berenergi, spiritful, semangat.


Nah, believe it or not.. ternyata memang berpengaruh tuh! Tekad untuk membuat hari yang beda, ditambah lagi dengan tubuh dibungkus kemeja oranye, hariku di awal Juli ini asyik banget!!! Nyenengke, bersemangat dan penuh ide. Ternyata bener ya apa yang tertera di cover sebuah buku motivasi bahwa kebahagiaan itu adalah keputusan. Keputusan untuk hepi sudah kubuat sejak awal hari.. dan aku menuai keputusan itu sepanjang hari ini. Thanks God for granting me a great life today....

Foto diambil dari http://matahati.fotografer.net/galeri.php karya Moh. Leo Lumanto

Sunday, June 08, 2008

Perlambatan

Ide tentang perlambatan ini kubaca di harian Kompas pada pergantian tahun. Dan baru kusadari dan rasakan nikmatnya kemarin, hari Minggu siang. Mengajak temanku, aku menemui kakakku dan keluarganya di Taman Surapati. Dari pukul 1 siang hingga pukul 5 sore aku nikmati hawa segar nan sejuk di bawah pohon-pohon besar dengan daun-daun yang berguguran, serasa musim gugur. Waktu serasa berhenti.
Di depanku sekelompok pemain biola sedang berlatih. Ada yang masih usia SD kelas 1 atau 2, ada remaja, ibu-ibu bahkan bapak yang rambutnya mulai beruban. Mereka berlatih untuk tampil di istana. Ada seorang bapak keriting bertopi pet merah sedang memberi aba-aba kepada para pemain yang sedang menggesek senar biola mereka memainkan lagu Gundul-gundul pacul..
Di area yang lain tampak seorang laki-laki dan perempuan berpose di depan kamera. Bahkan ada adegan gendong-gendongan segala kaya iklan produk susu. Tampaknya meeka sedang mempersiapkan foto pre wedding mereka..
Di sudut yang lain, ada yang asyik membaca buku. Tadinya kupikir seorang lelaki muda itu sedang menunggu seseorang. Namun, tak ada tanda kegelisahan yang ditampakkan oleh bahasa tubuhnya. Ia tidak sebentar-sebentar melihat telepon genggamnya. Ia duduk termenung di rerindangan pohon. Dan setelah beberapa lama, ia membuka buku dan asyik membaca.
Sedangkan aku, asyik mengamati sekitar sambil menikmati segarnya pecel pincuk, tahu, dan telor dadar yang kubeli dari ibu-ibu latah. Setelah kenyang, kunikmati bercanda bersama keponakan laki-lakiku yang dengan bangga bisa meniti tepi trotoar.. ia pun asyik mengamati air mancur dan suasana sekitar.
Ah.. akhirnya setelah sekian lama aku boleh menikmati perlambatan. Selama hampir setengah hari aku tak melakukan kegiatan yang cepat dan produktif.. hanya menonton, menikmati udara, angin, daun, tawa anak-anak, dan ngobrol santai...
Aku menjanjikan diriku untuk kembali ke Taman Surapati lagi....